The Day I Tried To Say Pancasila

971186_643965145632560_566876209_n

This essay on my school’s mading.

Kisah ini bermula ketika Senin pagi saat saya ikut Upacara Bendera Senin.  Seperti biasa, saya berdiri bersama guru-guru berderet sepanjang dinding belakang Kantor Guru.  Di sebelah kiri saya ada Kepala Sekolah, Pak Anwar, dan di sebelah kanan saya ada Pak Istiyanto, orang-orang yang paling berkuasa di MAN Pesanggaran.  Siswa-siswi kami berbaris dengan rapi di depan kami di lapangan sekolah.  Upacara pun dimulai dengan sambutan dari salah satu guru, dan sesaat setelah itu, kami membaca Pancasila bersama-sama.

“Pancasila!” teriak Pak Purwarto.

“Pancasila!” teriak siswa dan guru lain.  Namun, tidak seperti biasa, kali ini Pak Anwar diam.  Tiba-tiba, janturgku berdenyut cepat, dan wajahku pucat.

“ini tes,” pikir saya.  “Oh no!”

Pak Anwar ingin tahukalau ternyata Mr. Ryan sudah bisa bicara Pancasila atau tidak.  Sedangkan saya yakin saya sudah bisa satu sampai tiga, nomor empat dan lima saya belum.  Nomor empat terlalu panjang, dan saya belum coba nomor lima.  Terlebih, selama saya bicara nomor satu, saya lihat banyak siswa tidak fokus dengan berbicara Pancasila, tetapi fokus dengan melihat kepada mulut saya!  Mereka juga mengetes saya, dan nanti pasti ada komentar.  Sepertinya setiap orang di sekolah buat keputusan untuk bertes saya pagi ini!

Hampir sampai ke nomor empat.

“Fokus.”  Dalam hati kubisikan berulang-ulang.

“Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,” kata Pak Pur.

“Kerakyatan yang hikmat… ,” kata saya, dan berhenti.

Pak Anwar menggelengkan kepala, dan banyak siswa tertawa.

Saya sakit hati.  Saya gagal dalam tugas di depan Pak Anwar dan siswa.  Saya kurang persiapan untuk ini.  Kenapa?  Saya sudah di sekolah ini selama 1 bulan.  Seharusnya saya sudah bisa membaca Pancasila.  Saya berjanji kepada diri saya sendiri bahwa minggu depan saya akan membaca Pancasila dengan lancar.

Malam itu saya mulai begitu semangat berlatih unuk membaca Pancasila di rumah saya.  Saya melangkah bolak-balik di kamar tamu sambil membaca Pancasila berkali-kali.  Setiap malam saya lakukan itu hingga saya puas.  Mungkin saya orang biasa.  Saya bisa lupa, bisa salah, bisa ketiduran, bisa sakit, bisa marah, dan bisa menganis.  Tetapi saya juga bisa bekerja lebih keras daripada siapa pun.  Dan menurut saya, itu rencana yang terbaik bagi seseorang untuk bisa belajar dalam kehidupan.

O ya!  Saya hampir lupa!  Sudah bisakah saya membaca Pancasila dengan lancar?  You’ll have to watch my mouth next Monday to find out!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: